ads
ads
ads

Mainan Seks Jadi Jualan Laris Beberapa Negara Selama Pandemi

ads

Tjiniki.com,- Efek pandemi Covid-19 berdampak hingga ke ranah seksualitas. Himbauan untuk menjaga jarak akhirnya membuat banyak orang melampiaskan hasrat seksualnya melalui mainan seks.

Kemarin, 25 November 2020, Kepala Lembaga Bea Cukai Bandung, Dwiyono Widodo mengatakan telah memusnahkan ratusan mainan seks yang telah lebih dahulu disita oleh anak buahnya.

Selama pandemi, jumlah mainan seks ilegal yang disita anak buahnya via jasa pengiriman barang mengalami lonjakan. Dwiyono menilai hal tersebut merupakan indikasi naiknya jumlah pengguna barang ini.

“Dengan ada pandemi ini penjualan online semakin banyak sehingga volume barang meningkat. Selain itu, penyalahgunaannya [mainan seks] meningkat. Jumlahnya ada 422, selama pandemi jumlahnya meningkat,” kata Dwiyono kepada Detik.

Kasus lonjakan penjualan mainan seks ternyata bukan hanya di Indonesia. Sebelumnya beberapa media di bulan Oktober pernah memberitakan tentang para perempuan lajang berusia 25-40 tahun di Tiongkok yang gencar berburu mainan seks sehingga membuat perputaran ekonominya mencapai Rp216 triliun.

Selain Tiongkok, ada juga Australia. Di tengah banyaknya toko yang terpaksa harus tutup, “toko dewasa” adalah satu-satuya yang tetap diizinkan beroperasi.

Bahkan toko yang menjajakan alat-alat terkait aktivitas seksual ini mengalami lonjakan pendapatan dibanding sebelum adanya pandemi covid-19.

Toko penjualan mainan seks memang sengaja diizinkan tetap buka di sana. Mengingat segala kegiatan masyarakat harus berhenti dan aktivitas luar rumah yang dibatasi.

Berbeda dengan Australia, di Indonesia menjual mainan seks masih dianggap ilegal. Mengutip situs Hukum Online, pedagang mainan seks berpotensi dijerat UU Pornografi, KUHP Pasal 282 dan 533, dan UU Perlindungan Anak. 

Contoh kasusnya sudah ada, yakni seorang lelaki di Balikpapan yang pada 2019 dijerat UU ITE dan UU Perdagangan karena nekat berdagang mainan seks. Ditreskrimsus Polda Metro Jaya Adi Deriyan tercatat pernah mengonfirmasi perdagangan alat bantu seks melanggar hukum.

Pemusnahan mainan seks yang dinilai ilegal ini dilakukan karena menurut Kepala Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Jabar, Saifullah Nasution berpengaruh signifikan terhadap pendapatan negara.

Meski cukup banyak pemberitaan tentang bagaimana petugas Bea Cukai menyita dan memusnahkan paket mainan seks yang ketahuan masuk Indonesia, perdagangan mainan seks toh tetap masih banyak terjadi karena permintaan pasar yang tinggi.

Forbes mencatat peningkatan penjualan sex toys selama pandemi juga terjadi di Selandia Baru, Australia, Inggris Raya, Denmark, dan Kolombia.

ads

Komentar