ads
ads
ads

Bocah Fly Over: Saya Tidak Mau Jadi Presiden

ads

Tjiniki.com,- Dhuhur baru saja usai, masjid-masjid di kota ini kembali senyap. Sejak tadi, langit Makassar berwarna kelam. Awan-awan hitam itu sedang menumpuk sesuatu, berharap tumpah ke bumi, namun enggan. Ini Sabtu, hari para pekerja mulai menyusun rencana liburan singkat setelah dikerjai rutinitas memburu rupiah setiap harinya.

Sore nanti, saya ada janji bertemu dengan seseorang. Lelaki yang punya cara berbeda dalam menikmati Sabtu. Saya sedikit khawatir, barangkali pertemuan kami akan batal sebab langit semakin murung. Pukul 16.00 wita, ashar telah permisi lewat. Saya juga telah berpakaian rapi. Sambil terus menatap layar ponsel, saya memasang sepatu coklat di kaki kanan. Tett, sebuah pesan whatsapp masuk.

“Hujan, tapi saya sekarang sudah ada di RS Awal Bros”, akhirnya pertanyaan saya beroleh jawaban. RS Awal Bros dan Fly Over jaraknya sudah sangat dekat. Ya, Fly Over adalah tempat saya berjanji untuk mengadakan temu. “Jadi datang hari ini?”, sebuah pesan menyusul dari seorang yang sama. Buru-buru saya jawab, “Iya, saya sudah mau jalan”, sambil membenarkan tali sepatu yang sudah bertahta di kaki kiri saya.

Di luar, awan yang sejak siang tadi mencoba tegar, akhirnya menangis sore ini. Tangisnya pelan. Malu-malu. Saya sudah berdiri di teras rumah, semesta sedang berbaik hati. Mendukung langkah kaki saya untuk memenuhi janji temu. Setelah lebih dulu memesan ojek online, saya memohon pamit kepada orang rumah.

Butuh waktu 15 menit membelah jalan Dg Tata menuju Giant Ekstra di Pettarani. Dibonceng seorang bapak ojek online bermantel hitam, dengan tenang bergumul diantara kelompok kendaraan yang terjebak macet sebab ruas jalan Pettarani menjadi sedikit sempit sejak proses pengerjaan jembatan layang.

Orang-orang berkendara semakin tidak sabaran Di bawah gerimis, sore ini jalan Pettarani harusnya menjadi teduh, setidaknya untuk dilalui tanpa bunyi klakson kendaraan yang saling sahut.
Di jalan, orang-orang memang kadang menjadi lebih egois.

Berkendara dengan kecepatan penuh. Adu klakson bahkan saat traffic light masih merah. Seringkali saling salip. Lupa menyalakan lampu sein hingga menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Tidak menggunakan helm, bahkan di pusat kota seperti Pettarani ini. Keselamatan adalah soal belakang, yang penting adalah sampai tujuan dengan cepat.

Saya berhenti tepat di depan Giant, setelah membaca pesan singkat bahwa dia bergeser dari Fly Over untuk memanjakan perut dulu dengan makanan. Saya pun masuk, ini kali pertama sebenarnya saya mampir ke tempat ini. Biasanya saya hanya lewat dan melihat ramai orang-orang dari jalanan.

Seperti namanya, Giant Ekstra memang lebih besar dari Giant kebanyakan. Saya membayangkan bagaimana bagusnya jika gedung seluas ini dijadikan panti asuhan untuk merawat dan mengajar anak-anak yang telah ditinggal keluarganya. Sungguh akan sangat banyak anak yang bisa diasuh.

Tiba-tiba ponsel saya berbunyi, “Di GFC, Lantai 2”. Saya langsung melihat ke arah travelator, akses untuk naik ke atas pasti lewat situ. Travelator Giant ini adalah yang terpanjang yang pernah saya temui di pusat perbelanjaan di Makassar.

Travelator sama dengan eskalator, hanya saja travelator ini aksesnya landai, biasa digunakan bagi konsumen yang membawa barang belanjaan dengan menggunakan troly. Selain cukup panjang, travelator ini jalannya sangat lambat, untuk orang yang sedang dikejar waktu, saya pastikan akan setengah berlari jika melewati travelator ini.

Akhirnya GFC Lantai 2, setelah saya berputar-putar kebingungan karena arsitektur bangunannya yang cukup unik. Mata saya seketika menangkap sosok laki-laki berjaket merah yang sedang sibuk mengantarkan berkotak-kotak makanan berisi potongan ayam dan nasi kepada 20 anak kecil yang telah duduk rapi di kursi.

Laki-laki itulah yang telah mengatur pertemuan untuk saya bisa bertemu dengan anak-anak jalanan yang sekarang mengelilinginya. Adalah Ahmad Yani Thamrin, seorang alumni Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia yang telah mendirikan sebuah komunitas merangkul anak jalanan.

Komunitas Peduli Anak Jalanan, atau lebih dikenal dengan KPAJ ini telah hidup selama 6 tahun. Saya mendekat, dan disambut dengan senyuman hangat. Tanpa menunggu komando, saya duduk di tengah anak-anak yang sedang lahap menyantap paha dan dada ayam berbalut krispy. Di depan saya, duduk seorang perempuan paruh baya, ia adalah mama dari salah satu anak yang dididik KPAJ. Mama Aldi begitu mereka memanggilnya.

Mama Aldi sehari-hari bekerja sebagai penjual tisu di Fly Over. Ia mengaku hidup hanya dari berjualan tisu. Meskipun hasil yang didapat hanya cukup untuk menutupi kebutuhan hidup satu hari saja.

Mengantongi 50-100 ribu per hari adalah suatu kesyukuran. Mama Aldi ketika berjualan tisu, seringkali dibantu oleh Aldi. Aldi kecil yang harusnya belajar mengenal aksara dan angka, malah turun ke jalan menjajakkan tissue dari satu pengendara ke pengendara lain.

Beruntung, Tuhan memiliki banyak jalan untuk memberi kebaikan. Menggerakkan hati seorang Ahmad Yani untuk mengedukasi anak-anak yang tidak pernah sempat menjadi perhatian negara.

Sejak 29 Juli 2012, pentingnya pendidikan mulai dikenalkan KPAJ kepada orangtua atau keluarga anak-anak yang menghabiskan waktunya di jalanan. Melalui pendekatan persuasif yang massif dilakukan, para orangtua pun dengan senang hati menyuruh anak-anak mereka untuk belajar.

“Tapi sekarang saya tidak pernahmi kasi izin ke Aldi ikut ke Fly Over. Saya tidak mau dia terganggu belajarnya. Saya ajak di ke Fly Over sekarang itu kalau lagi ada ini Pak Yani sama teman-temannya mengajar saja,” kata mama Aldi kepada saya dengan raut wajah penuh pengharapan.

Makanan di meja tandas, pun minuman dingin. Anak-anak ini tersenyum kepada saya. Ini kali pertama saya bertemu mereka. Namun wajah mereka begitu bersahabat. Kami saling mengenalkan diri satu sama lain. Aldi, Sara, Sari, Sahrul, Tina, Rasya, Aco, Fattul, dan ah masih banyak nama yang tidak sempat kami tukar.

Sara dan Sari adalah sepasang kembar yang ceria. Belum saja mereka tahu nama saya, lengan saya sudah berhasil mereka apit. Lalu berbicara tentang mimpi untuk menjadi polwan yang ingin menangkap para penjahat. Jam di tangan saya menunjukkan pukul 17.30 wita, sebentar lagi adzan maghrib. Kami meninggalkan Giant Ekstra, bangunan yang sempat mendapat penolakan warga Maccini karena membuat retakan di rumah mereka.

Saya tidak langsung memesan ojek online, saya memilih ikut ke Fly Over, tempat awal seharusnya saya bertemu anak-anak hebat ini. Di Fly Over, beberapa anak berpamitan kepada saya dan kak Yani.

“Kami mau pergi mengaji, kak”. Begitu kata mereka sambil mencium punggung telapak tangan saya dengan khidmat. Anak-anak jalanan yang seringkali dicitrakan sebagai anak yang berantakan, tidak sopan, kurang ajar, nakal, dan tidak mau mendengar adalah luput dari apa yang saya saksikan sore ini.

Tidak semua anak-anak itu pergi mengaji memang, beberapanya lagi tinggal untuk berjualan tisu. Begitu juga mama Aldi. Mama Aldi harus cari uang untuk makan malam nanti, karena Bapak Aldi terbaring sakit di rumah terkena penyakit jantung.

Pernah ada larangan berjualan dari Wali Kota, tapi mereka mengiba. Minta diberi belas kasihan. Sebab karena memberi syarat untuk menjaga kebersihan Fly Over lebih mudah ketimbang memberi mereka pekerjaan yang layak, maka Wali Kota menginzinkan mereka tetap berjualan.

Selain pernah mendapat larangan dari walikota, mengirimkan Satpol PP untuk menertibkan Fly Over juga harus dihadapi para pengais rezeki tisu ini. Dengan alasan menjaga keindahan kota, anak-anak yang kerap berjualan di Fly Over mereka tangkap untuk direhabilitasi selama enam bulan.

Negara kelihatannya amat alergi dengan anak-anak jalanan. Para pengemis, pengamen, pemulung, bahkan yang hanya berjualan sekalipun. Mereka menutup mata atas tanggung jawab untuk memberikan hak pendidikan yang layak. Kota semakin dibangun. Jalanan diperlebar. Lampu-lampu neon makin benderang. Namun masa depan anak bangsa dibiarkan redup.

Tepat adzan maghrib, giliran saya yang pamit pulang. Kak Yani sudah pulang lebih dulu. Saya pamit kepada Mama Aldi. Sebelum saya naik ke ojek online yang telah menunggu saya, saya sempat menyimak Rasya berbicara tentang cita-citanya di masa depan untuk menjadi seorang ustadz.

“Saya tidak mau jadi presiden, tidak bagus presiden itu. Buat apa, mati nanti tidak bawa harta sama kekayaan, tapi amal.”

Saya tertawa. Begitu kejamnya negara, hingga di usiamu yang masih kanak ini kau sudah tidak simpati pada presiden. Panjang umur. Kita bisa menciptakan sekolah-sekolah tanpa harus menunggu uluran tangan kosong pemerintah.

ads

Komentar